Swasunting Sebelum Posting (1) Oleh: Abdullah Makhrus
_"Seorang penulis butuh membaca untuk memperkaya analisisnya, membutuhkan kontemplasi untuk mengendapkan ide-idenya, dan membutuhkan waktu khusus untuk menuangkannya."_ *(Redi Panuju)*
SALAH satu kebiasaan saya saat membaca buku penulis senior adalah mencermati cara menulis dan gaya bahasa tulisannya.
Dari situlah, saya banyak melakukan ATM (Amati Tiru Modifikasi). Cara belajar yang paling praktis, yaitu langsung belajar dari penulis.
Tentu bukan sembarang penulis. Penulis yang masuk dalam list yang saya sebut sebagai guru menulis. Tentu karena karyanya sudah diakui sebagai penulis oleh khalayak atas tulisannya yang berbobot dan sudah bertebaran di muka bumi.
Sebut saja beberapa penulis yang berlatar belakang akademisi. Ada Dr. Much. Khoiri, M.Si., Dr. Ng Tirto Adi MP, M.Pd, Prof. Ngainun Naim, Dr. Ridwan Hasan Saputra, M.Si.
Ada penulis sekaligus pebisnis, di antaranya Kang Tendi Murti, Indari Mastuti, Kang Dewa Eka Prayoga, Mas Saptuari, Misbahul Huda, Suhadi Fadjaray.
Ada yang praktisi penulis atau jurnalis seperti Dahlan Iskan, Redi Panuju, Pak Ahmad dari radarjatim.id, Tere Liye, Js. Kheiren, Ahmad Rifa'i Rif'an, dan masih banyak yang lainya.
Nama-nama tersebut saya cantumkan karena saya membaca banyak tulisannya. Tulisan mereka banyak mewarnai gaya menulis saya selama ini. Sebenarnya masih banyak lagi. Kalau saya tulis semua, jadi satu tulisan tersendiri.😀
Oke. Saya mulai ya. Sudah siap?
Pertama, cara penyajian tulisan.
Beberapa karya dari penulis terkenal yang saya baca, tulisan mereka ternyata cukup ringkas. Satu paragraf ditulis dengan 3-5 kalimat saja. Kalau saya ukur dengan ketikan di word, cuma jadi 3 baris. Setelah itu harus di tekan tombol ENTER, lalu lanjut ke paragraf berikutnya.
Perhatikan contoh tulisan guru-guru inspirasi menulis saya berikut ini.
Foto tulisan satu paragraf empat kalimat Dr. Much. Khoiri, M.Si. Dok pribadi
Ada lagi, contohnya. Bahkan, satu paragraf cuma dua atau tiga kalimat saja.
Foto tulisan Prof Ngainun Naim di buku MENULIS ITU MUDAH. Dok. Pribadi
Tulisan Ahmad Rifa'i Rif'an. Penulis muda dengan puluhan karya buku. Sebagian best seller di Gramedia. Dok. Pribadi
Saya pernah temukan juga tulisan Dahlan Iskan, satu paragraf isinya cuma satu kalimat saja. Mungkin itulah yang membuat pembaca merasa ada jeda bernapas, tidak capek, meskipun sebetulnya tulisan mereka cukup panjang.
Kedua, membedakan penggunaan kata "di" sebagai awalan dan imbuhan yang benar. Ini kesalahan yg menurut saya menempati peringkat satu buat kesalahan penulis pemula.
Oke, saya ingin mencuplik tulisan menarik dari Usrotun Hasanah. Beliau menjelaskan secara ringkas Cara Mengetahui Penulisan Preposisi “di-“ yang Benar
“Kadang kita kebingungan, untuk menulis preposisi “di-“ itu disambung atau dipisah. Iya, kan?” Tidak perlu khawatir atau semaput apalagi kesurupan. Karena ada cara mudah untuk mengetahuinya. 😁", katanya.
Berdasarkan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesi (PUEBI), maka penulisan “di-“ harus disambung dengan kata dasar ketika dia sebagai imbuhan. Kalau menurut versi saya, Kalo ketemu kata kerja, ya disambung.
Contohnya.
“dibawa”, “dihitung”, “dibeli”, dibaca, dan sebagainya.
Namun, jika sebagai preposisi “di-“ harus ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya ketika dia sebagai kata depan atau menunjukkan tempat.
Misalnya nih, “di rumah”, “di hatimu”, dan lain-lain.
Lantas, bagaimana cara mudah membedakan “di-“ tersebut sebagai imbuhan atau sebagai kata depan?
Caranya sangat simple.
Coba ubah “di-“ tersebut menjadi “me-“. Jika terbaca cukup aneh, alias nggak nyambung seperti bahasa makhluk asing semacam alien entah dari planet yang belum diketemukan. Maka, “di-“ tersebut adalah kata depan. Sebagai kata depan, maka penulisannya pun harus dipisah.
Contoh:
di sana diubah menjadi “mesana”. Nyambung nggak, sih?
Nah, yang kedengarannya aneh-aneh itu maka penulisannya harus dipisah. Karena berfungsi sebagai kata depan, bukan imbuhan.
Begitu pula pada preposisi “di-“ yang disambung. Coba saja ubah menjadi “me-“. Jika enak didengar, maka penulisannya harus disambung dengan kata yang mengikutinya, karena merupakan imbuhan.
Misal “dibaca” menjadi “membaca”, “dibeli” menjadi “membeli” dan lain-lain. Enak kan didengar? Maka, nulisnya harus disambung karena fungsinya sebagai imbuhan.
Core of the core , alias intinya inti "me-" yang enak didengar, maka penulisan preposisi "di-" nya harus disambung dengan kata yang mengikutinya.
Penulisan "di mana" juga harus selalu terpisah saat digunakan sebagai kata tanya dalam kalimat tanya, sebagai kata penghubung yang menyatakan tempat, atau dalam bentuk "di mana-mana".
Misalnya:
“ Di mana hatiku akan berlabuh. Apakah di hatimu? Entahlah. ”
Jadi, jelas ya, pemirsa? Sudah bisa membedakan kapan penulisan "di" itu dipisah dan kapan disambung? Harus paham 100% nih, karena ini basic banget. Kalo nggak paham, ya, nganu lah. Gimana gitu rasanya kalau tulisan kita dibaca editor atau penulis senior. Malu ah.
Saya jadi keingat pesen editor GBL, Mbak Khoirun Nisak, ketika dalam satu forum pas mengisi materi kepenulisan SMKN 1 Sidoarjo, . Ia pernah berseloroh,
"Jangan menyatukan yang harusnya berpisah, dan jangan memisahkan yang seharusnya bersatu".
Bukankah begitu?!
Sidoarjo, 4 Januari 2026
Biodata Penulis
Abdullah Makhrus, M.Pd.
Seorang Writer-Trainer-Teacher. Pengajar di SD Muhammadiyah 1 Pucanganom Sidoarjo. Kepala Bimbingan Belajar Matematika SD "Az Zahro“. Ketua Gerakan Budaya Literasi(GBL) Sidoarjo dan Sekretaris Rumah Virus Literasi(RVL). Ketua Ikatan Guru Indonesia (IGI) Sidoarjo. Buku yang pernah di tulis 3 Buku Solo, 3 E-book, dan 10 Buku Antologi:
Karya Buku Solo
1 Pesan 1 Peristiwa.
2. Rahasia 15 Menit Membuat Blog dan Website Pribadi Bagi Pemula
3. Prau Dolanan Fatih
Karya Ebook
- Pembahasan soal Penyisihan KMNR19 Kelas 1-2
- Pembahasan soal Penyisihan KMNR19 Kelas 3-4
- Pembahasan soal Penyisihan KMNR19 Kelas 5-6
Pernah mendapatkan penghargaan penulis artikel di Jawa Pos berjudul Belajar Matematika dengan Nalar pada lomba Artikel Untukmu Guru 2008. Tulisannya pernah dimuat di harian Republika berjudul Menemukan Motivator Terbaik. Tulisan lainnya juga beberapa kali dimuat di Tabloid PENA Dinas Pendidikan Sidoarjo dan www.gblsidoarjoberkarya.com. Penulis bisa dihubungi di 081333148884. www.abdullahmakhrus.com
0 Comments