Pesan Cinta Subuh #13

 

_"Naluri setiap orang tua adalah menjaga anaknya meskipun yang ia lakukan akan membahayakan dirinya"_

 

Suatu ketika, seorang pejabat beserta beberapa koleganya sedang singgah di sebuah kota. Di kota tersebut, mereka melihat pedagang kuliner yang sedang mempertontonkan proses penyembelihan trenggiling hidup sampai memanggangnya.

 

Pejabat dan koleganya merasa tertarik, mereka ingin menyaksikan sendiri seluruh proses penyajian hidangan lezat itu.Konon, setelah tertangkap, trenggiling yang ketakutan itu akan menunjukkan sikap defensifnya.

 

Secara naluriah, trenggiling tersebut secara otomatis akan menggulung dirinya sendiri seerat mungkin, sampai membentuk lingkaran atau bola. Proses 'penyajian' hidangan trenggiling tersebut adalah sebagai berikut.

 

Setelah dipilih pembeli, dengan sekuat tenaga penjual akan menarik trenggiling yang meringkuk tersebut hingga lurus. Setelah itu, mulai dilakukan proses pembelahan dada dan juga perut.

 

Bahkan, organ dalamnya pun dikeluarkan, kemudian dicuci bersih, dijepit dengan jepitan besi, dan kemudian dipanggang di atas bara api sampai semua sisik tebal pada tubuhnya pun rontok.

 

Dari banyaknya penjual tersebut, salah seorang penjual yang memilih trenggiling berbadan gemuk telah bersiap menarik trenggiling tersebut hingga lurus. Namun, walau sudah sekuat tenaga, ia masih tak mampu menarik lurus trenggiling itu.

 

Orang-orang yang menyaksikan menjadi heran, penjual masih muda dan kuat pun merasa kehilangan muka, maka dibantinglah trenggiling malang itu ke lantai dengan keras, sambil menjelaskan kalau trenggiling akan membuka diri jika kesakitan.

 

Tidak disangka, bantingan berkali-kali itu malah membuat trenggiling meringkuk lebih erat. Mata sipit trenggiling yang semula terlihat ketakutan kini tertutup dengan rapat.

 

Dari moncongnya yang mengalir darah segar, tetapi tubuhnya tidak menjadi lurus sedikit pun. Malah melingkar dengan semakin erat.

 

Rombongan pejabat yang menyaksikannya pun merasa tidak tega melihat kondisi trenggiling tersebut. Mereka melambaikan tanga memberi isyarat kepada sang penjual agar tidak meneruska proses tersebut.

 

Namun, sang pemuda penjual masih belum puas. Diambillah jepitan besi, lalu trenggiling tersebut diletakkan di atas api panggangan. Sisiknya yang keras menjadi rontok dan bau terbakar pun menyebar luas, tetapi posisi trenggiling tetap tidak berubah.

 

Penjual itu pun merasa tidak lagi berdaya. Dia menggelengkan kepala sambil berkata, "Trenggiling ini pasti bermasalah. Tidak layak dikonsumsi!:

 

Sambil membuangnya ke lahan pasir yang terletak di belakangnya. Kemudian, dipilihnya lagi dua ekor trenggiling yang lain. Kali ini, proses pengolahan berjalan lancar, tidak sampai 5 menit selesai.

 

Ketika salah seorang dari rombongan pejabat tersebut sedang membayar, tanpa sengaja dilihatnya trenggiling nahas yang dibuang di atas pasir tadi.

 

Perlahan-lahan, treinggiling itu meluruskan tubuh- nya, kelopak matanya terbuka sedikit, disusul dengan beberapa kedutan yang membuat tubuhnya lurus dan kaku, hingga akhirnya tak bernyawa lagi.

 

Seiring tubuhnya menjadi lurus, mereka dikejutkan oleh gerakan lembut dari perut sang trenggiling yang terkapar. Muncul seekor trenggiling kecil yang tubuhnya transparan hanya sebesar tikus.

 

Perlahan ia membuka mulut kecilnya, seakan memanggil induknya yang sudah tak lagi bernyawa.Pemkitangan tersebut membuat semua orang terpana.

 

Bayangkanlah, berat badan trenggiling itu tidak lebih dari 5 kg. Tubuhnya telah mengalami bantingan dan pembakaran, tetapi sampai napas terakhir, trenggiling tersebut masih saja melindungi anaknya.

 

Tubuh yang telah terpanggang hingga setengah matang, serta sisik yang rontok karena sengatan panas api ini tak menghalangi sang induk untuk tetap melindungi keutuhan jiwa dan raga anaknya.

 

Kekuatan semangat yang dimiliki oleh trenggiling tersebut telah jauh melampaui batas kehidupan. (Diambil dari buku “PARENTime, 7 Tahun Pertama yang Begitu Berharga”)

 

*Kisah selanjutnya..*



Sahabat, mari kita lanjutkan cerita di atas dengan bayangan kebakaran di sebuah rumah.

 

Jika induk trenggiling begitu menyayangi anaknya, lantas bagaimana kita menunjukkan kasih sayang kita pada saat melihat anak-anak tercinta yang sedang terlelap nyenyak dalam tidurnya?

 

Bisa jadi kita masih merasa tidak tega membangunkan anak untuk salat subuh? Apalagi saat melihat anak masih tertidur sangat pulas, anak susah sekali dibangunkan, atau karena masih memaklumi mereka masih anak-anak?

 

Padahal di usia 7 tahun, anak sudah harus diajarkan salat 5 waktu. Dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya dia berkata, Rasulullah Shallallohu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda,

 

_“Perintahkanlah anak-anak kalian untuk mengerjakan salat ketika mereka berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka bila pada usia sepuluh tahun tidak mengerjakan salat, serta pisahkanlah mereka di tempat tidurnya.”_ *(HR. Abu Dawud dengan sanad hasan)*

 

Jika Kita masih memiliki berbagai alasan untuk tidak membangunkan anak salat subuh karena tidak tega atau alasan lain, maka cara menyikapi rasa kasihan seorang Syeikh pada anaknya terutama dalam membangunkan anak untuk Salat Subuh ini dapat Kita tiru.

 

Syeikh tersebut memulai dengan pertanyaan.

 

*“Apa yang Ibu lakukan jika terjadi kebakaran di rumah pada subuh hari, dan anak ibu sedang tertidur pulas? Apakah ibu akan membiarkannya tetap tidur karena tidak tega membangunkannya?”*

 

“Tentu tidak Syeikh, saya akan membangunkannya, kalau perlu menyeretnya agar terbangun dan tidak terlalap api"

 

"Jika demikian, lakukan seperti itu agar anak bangun salat Subuh.”

 

Memang benar, seperti itulah yang semestinya orang tua lakukan untuk membangunkan anak salat subuh, bukankah api neraka jauh lebih dahsyat dibandingkan kebakaran di rumah?

 

Bagaimana mungkin alasan ‘tidak tega’ membangunkan anak yang tertidur nyenyak, kita sampaikan di hadapan Allah kelak? Apakah kita lebih tega anak kita terlahap api neraka karena tidak terbiasa bangun pagi untuk salat?" 

 

'Cinta Kasih' induk hewan saja bisa menjadi begitu mengharukan. Apalagi, cinta kasih dari orang tua sebagai seorang manusia, pasti akan lebih menyentuh hati saat bercita-cita ingin menyelamatkan anaknya untuk kehidupan akhirat agar tidak dilahap api neraka".

 

Ya Allah, tolonglah aku agar selalu mengingat-Mu, bersyukur pada-Mu, dan memperbagus ibadah pada-Mu_

 

  Salam Hijrah Sukses Mulia






TIPS SEHAT DISAAT KONDISI TAK BERSAHABAT 


Beberapa akhir ini viral terkait kualitas udara yang buruk dibeberapa kota di Indonesia. Tentu hal ini berdampak pada kesehatan.


Banyak orang yang kemudian batuk-batuk akibat keadaan dan kondisi seperti ini. Maka dari itu sangat penting bagi kita untuk terus menjaga kesehatan. Berikut ini ada tips sehat disaat kondisi tak bersahabat.


1. Menjaga kebersihan lingkungan dan kebersihan badan.

2. Jika melakukan aktivitas diluar rumah pastikan mengenakan masker.

3. Cuci tangan pakai sabun.

4. Konsumsi makanan yang bergizi

5. Rutinkan untuk berolahraga.

6. Bila perlu konsumsi suplemen kesehatan seperti madu dan propolis.


Buat teman-teman yang membutuhkan propolis, bisa ikhtiar konsumsi British Propolis. Insyaallah full manfaat dan menjadi salah satu wasilah agar tubuh sehat dan daya tahan tubuh meningkat.


Pemesanan British Propolis silahkan hubungi 081333148884